Pages

About Konferensi Rajab 1432 H

Haura's bLog......

Assalamualaikum..
welcome to my blog

23 April 2011

Wanita dan Emansipasi

Bulan april ini, identik dengan bulan emansipasi. Ini karena setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Sedikit heran, karena sebenarnya masih banyak wanita pejuang bangsa ini yang memberi banyak pengaruh dan kontribusi seperti Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, dll. Tetapi mengapa hanya Kartini ya yang diberi penghargaan sampai di peringati?

Kartini dianggap sebagai pahlawan emansipasi wanita karena berhasil keluar dari tradisi yang tidak memberikan kesempatan bagi perempuan untuk maju pada saat itu. Momentum ‘kebebasan’ Kartini ini seolah mendapat angin bersamaan dengan gerakan feminisme yang berkembang di dunia Barat. Terjadilah sebuah simbiosis antara keduanya untuk kemudian mengusung genderisasi di semua bidang kehidupan.

Sebagian masyarakat juga beranggapan, Kartini memperjuangkan Emansipasi, Feminisme, Liberalisme. Mereka beranggapan bahwa Kartini adalah pelopor perjuangan wanita agar setara dengan laki-laki dalam berbagai hal. Sehingga nama Kartini mereka jadikan legalisasi atas apa yang mereka lakukan. Namun, benarkah ide yang diperjuangkan Kartini adalah emansipasi wanita yang gembar-gemborkan oleh kaum feminisme saat ini?

Emansipasi? Feminisme? Genderisasi? Maksudnya? Haduhh..istilahnya aneh-aneh aja. Tapi, mau gak mau harus tau loh, apalagi buat orang Islam yang ngaku cerdas dan gaul..! Tentu, cerdas dalam mengkritisi fakta yang terjadi sekarang, alias gak seperti air yang mengalir, gak punya pendirian. Gaul? Tentu donk.. Kalau Ngaku orang Islam, kudu gaul alias tau informasi dan menyebarluaskan Islam. Ini dia gaul dalam Islam. ^.^ v
Ok, supaya menambah pengetahuan kita juga, kita lirik dulu munculnya emansipasi itu gimana sih?

Sejarah Emansipasi dan Gerakan Feminisme
Sejak sekitar tahun 200 Sebelum Masehi, nasib makhluk bernama wanita ini sungguh malang . Kaum laki-laki di berbagai belahan bumi meletakkan posisi wanita pada derajat yang rendah. Mereka dipaksa hidup di bawah keganasan laki-laki, sampai-sampai tidak ada batas bagi seorang suami dalam memperlakukan istrinya. Wanita dianggap barang komoditi murahan. Hingga pada tahun 611 Masehi, barulah pembebasan kaum wanita dari segala penderitaan dan kehinaan dimulai. Pelopornya adalah seorang laki-laki bernama Muhammad. Dengan mendapatkan petunjuk Allah SWT, Nabi Muhammad berusaha mengangkat posisi wanita pada tingkat kemuliaan yang tiada tara . “Surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu”, sabda Rasulullah SAW ini mengindikasikan bahwa posisi ibu (yang berarti seorang perempuan) adalah salah satu penentu dalam meraih surga.

Pada masa itu, wanita diposisikan pada derajat yang tinggi. Hingga sekitar abad ke-13 ketika Kekhilafahan Islam mulai goncang, kemuliaan itu pelan-pelan memudar, seiring dengan peradaban, sains dan teknologi yang ditawarkan oleh Gerakan Revolusi Industri. Pada abad ke-19, muncul benih-benih yang dikenal dengan feminisme yang kemudian terhimpun dalam wadah Women’s Liberation (Gerakan Pembebasan Wanita).

Gerakan yang berpusat di Amerika Serikat ini berupaya memperoleh kesamaan hak. Mereka memperjuangkannya melalui parlemen, turun ke jalan-jalan untuk melakukan aksi demonstrasi maupun pemboikotan. Pada awal abad ke-20, gerakan feminisme di AS difokuskan pada satu isu yaitu mendapatkan hak untuk memilih, karena kala itu wanita disamakan dengan anak di bawah umur yang tidak memiliki hak pilih dalam pemilu. Hingga pada tahun 1948, sejumlah wanita berkumpul di Seneca Fall, New York untuk menuntut hak-hak mereka sebagai warga negara.

Sekitar tahun 1950-an kedudukan wanita yang ideal sebagai ibu rumah tangga tak pernah digugat, meski sudah banyak wanita yang aktif bekerja di luar rumah sebagai buah revolusi industri. Pada tahun 1960, isu feminisme berkembang lagi di AS. Tujuannya adalah menyadarkan kaum wanita bahwa pekerjaan yang dilakukan di sektor rumah tangga merupakan hal yang tidak produktif dan menganggap bahwa peran wanita sebagai ibu rumah tangga adalah faktor utama penyebab wanita tidak berkembang kepribadiannya.

Untuk itu, wanita tidak harus menikah dan tidak punya anak agar tidak membebani dan menghambat pengembangan dirinya. Tampak gerakan feminis kala itu berkembang menjadi wadah perjuangan untuk membebaskan wanita dari rumah tangga dan membenci laki-laki. Laki-laki dipandang sebagai figur penindas dan takut disaingi wanita. Gerakan kaum feminis yang mengecilkan arti keluarga relatif berhasil mengubah persepsi terhadap keluarga konvensional pada sebagian besar masyarakat AS. Wanita pun dianggap lebih rendah powernya di dalam keluarga, jika tidak menghasilkan materi (uang).

Paham feminisme berjuang untuk menghapuskan berbagai perbedaan seksual sebagai langkah awal menuju kesetaraan sejati. Perjuangan kesetaraan perempuan dan laki-laki dimaknai kesamaan peran kedua jenis kelamin itu dalam berbagai lapangan kehidupan baik di bidang politik, ekonomi, hukum, pendidikan, sosial dan sebagainya. Emansipasi di bidang politik diterjemahkan sebagai: banyaknya perempuan menjadi lurah, camat, bupati, gubernur, anggota dewan, menteri dan bahkan presiden. Makin banyak yang berperan, dianggap makin sukses. Di bidang ekonomi, perempuan dianggap setara dengan ukuran: punya penghasilan sendiri, tidak tergantung pada suami dalam hal keuangan. Makin banyak perempuan bekerja, menjadi sekretaris, direksi, pengusaha wanita, dll, dianggap emansipasi berhasil. Bahkan, makin banyak perempuan jadi artis, meski dengan membuka aurat, menanggalkan rasa malu, mengeksploitasi bagian tubuhnya yang paling tabu, demi terkenal dan kaya materi, dianggap keberhasilan emansipasi. Atas nama emansipasi pula, saya pernah menemukan berita bahwa ada wanita yang memimpin dalam shalat di mesjid, dan imamnya pun campur antara laki-laki dan perempuan. Atas nama emansipasi pula, ada ide nyeleneh seperti : “Kenapa (maaf) buang air kecilnya perempuan harus jongkok? Sesekali berdiri juga boleh dong. Emang cowo aja yang bisa?”Astaghfirullah…

Sempat terfikirkan, kalau demikian, apakah dalam hal penyusuan anak dan peran ibu yang sebenarnya fitrah kaum hawa akan digantikan oleh kaum adam? Ckckck… Inilah ide-ide Feminisme yang lahir dari aturan Kapitalisme sekuler.

Peran Kartini
Gencarnya kampanye feminisme tidak hanya berpengaruh bagi masyarakat AS, tetapi di seluruh dunia termasuk Indonesia. Di Indonesia, feminisme lebih dikenal dengan emansipasi wanita. Tak sedikit orang-orang yang telah memperjuangkan emansipasi tersebut menjadikan RA Kartini menjadi simbol perjuangannya. Pikiran-pikiran RA Kartini yang tertuang dalam bentuk surat-menyurat kemudian dikumpulkan dalam satu buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Semua yang diusung kaum Feminisme bukan kehendak Kartini.

Meskipun Kartini bergaul dengan perempuan bangsawan Eropa (Belanda), Kartini tidak lantas untuk mengadopsi gaya hidup mereka. Tulisan di salah satu suratnya: “…sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradapan?”

Saya menemukan sedikit penuturan Kartini dalam suratnya kepada Prof. Anton dan Nyonya (4 Oktober 1902): “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”

Dari kutipan isi surat Kartini di atas, jelas-jelas Kartini tak menghendaki wanita diekspolitasi. Kartini sejatinya memperjuangkan agar perempuan mendapatkan haknya menikmati pendidikan, agar ia dapat menjalankan kewajibannya sebagai Ibu yang merupakan sekolah pertama untuk anak-anaknya. Pada dasarnya Kartini menuntut hak wanita yang memang sudah menjadi haknya, bukan Emansipasi seperti sekarang ini. Bahkan, kritik Kartini terhadap perempuan Barat yang terlalu terbuka, bebas dan liberal, pantas dialamatkan pada generasi wanita sekarang.

Orang feminisme seringkali menuduh Islam sebagai penghambat tercapainya kesetaraan dan kemajuan kaum perempuan. Emansipasi yang lahir akibat Kapitalisme-sekuler ini, justru bukan menyelesaikan masalah. Hal ini justru menambah masalah baru. Seringnya wanita bepergian keluar untuk bekerja, gaji yang diterima wanita lebih besar dari pria, dan tidak terurusnya rumah tangga malah memicu KDRT dalam rumah tangga. Selain itu anak-anak yang butuh kasih sayang orang tua, pada akhirnya tidak terurus karena aktivitas orang tuanya yang sibuk. Wajar kalau banyak anak-anak sampai salah langkah, misalnya terjerumus dalam narkoba, free sex, aborsi, dan membangkang orang tua.

Selain itu, Busana muslim yang menutup aurat dianggap mengungkung kebebasan berekspresi kaum perempuan. Padahal wanita yang tidak menutup auratnya sering menjadi alat pelecehan bagi kaum adam. Justru dengan mengenakan jilbab dan kerudung itu adalah suatu kehormatan bagi wanita, karena itu symbol perlindungan untuk kaum hawa.

Peran wanita sebagai ibu dan pengatur rumah tangga dianggap sebagai peran rendahan. Padahal dibalik orang-orang yang sukses terdapat Ibu yang luar biasa. Tanpa Ibu, kita tidak akan pernah lahir ke dunia ini. Kasih sayang Ibu juga tidak bisa digantikan oleh pria. Kartini sendiri pasti akan sedih jika melihat perjuangannya disalahgunakan seperti ini.

Islam memuliakan wanita
Ketidakadilan dan kekerasan yang dirasakan oleh wanita ini terjadi akibat kelemahan dan kebodohan umat Islam sendiri yang meninggalkan Islam dan mengambil aturan Kapitalis sebagai pedoman hidupnya. Ini salah satu bukti bahwa Sistem kapitalisme sekuler yang mengatur kehidupan mereka telah gagal memberikan keadilan dan perlindungan. Perempuan adalah makhluk mulia. Alangkah nistanya jika wanita dihargai sebatas penampilan fisiknya. Eksploitasi fisik dan pikirannya, tidak sejalan dengan fitrah dan nurani perempuan. Saatnya untuk menghentikan itu semua dan mengembalikan kemuliaan perempuan pada kodratnya.

Allah SWT telah menciptakan laki-laki dan wanita dengan posisinya masing-masing secara pas, tidak mengeksploitasi satu sama lain. Allah telah memberikan hak-hak kepada wanita sebagaimana yang diberikan kepada laki-laki, kecuali ada hal-hal khusus yang diberikan Allah terkait dengan tabiat dan martabat wanita, seperti kemampuan hamil, melahirkan dan menyusui yang tidak diberikan-Nya kepada laki-laki. Allah swt. Berfirman :

"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar." (QS. An Nisaa' : 34)

"Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. " (QS. An-Nisa :32)

Islam sangat memuliakan wanita. Dulu, ketika Islam diterapkan secara kaffah dalam naungan Khilafah, ketika ada seorang wanita disingkap ujung jilbabnya oleh lelaki romawi, puluhan ribu tentara dari Baghdad sampai kota Ammuriah dikirimkan untuk melindungi wanita yang dilecehkan tersebut. Namun, apa yang terjadi saat ini? banyak wanita yang dieksploitasi, dilecehkan, dan diperjualbelikan. Tidak ada kehormatan yang didapatkan bagi wanita. Seorang Muslimah tidak pantas untuk menjadi keranjang sampah yang menampung berbagai budaya hidup dan akhlak yang buruk. Apalagi budaya barat dengan berbagai kebiasaannya yang terlihat kotor dan menjijikkan itu.

Dalam Islam, tugas utama seorang wanita adalah Ummu wa Rabbatul Bait . (Ibu dan pengatur Rumah Tangga). Bekerja hanya diwajibkan untuk pria. Boleh saja bekerja, asalkan tidak meninggalkan kewajiban yang utama ini. Wanita memiliki peranan yang sangat penting dalam mendidik anak-anaknya. Ibu menjadi madrasah terbaik bagi anak-anaknya untuk menjadi generasi shaleh/ah. Dalam Islam, wanita justru menjadi ratu dan tidak terancam fitnah. Sungguh, apabila mereka benar-benar memahami agama, hukum dan syari’at Allah, niscaya mereka akan mampu melahirkan generasi-generasi baru yang tangguh, hebat, dan berguna bagi umat seluruhnya. Wallahua’lam…

(berbagai sumber)

2 komentar ^.^:

NotesKedokteran mengatakan...

menjalin silaturahmi, berkunjung ke blog sahabat

*Haura* mengatakan...

@notes kedokteran :
salam ukhuwah...
terimakasih sudah berkunjung..
mksih juga untuk e-booknya..bagus2... ^^

About Konferensi Rajab 1432 H

Paling Populer

Mampir ke sini juga!

Wassalamu'alaykum wrwb

Terimakasih teman-teman atas kunjungannya...
Semoga bermanfaat......Salam Ukhuwah..!